ARTICLES

POSTING DATE    TO 

CATEGORY 1

#LocalHero Roro Ajeng, Gadis Inspiratif Ajak Perantau Muda Tidak Lupa Kembangkan Daerah Sendiri

26 Jun 2017

Catatan kisah perjalanan Indonesia tidak pernah bisa dipisahkan dari sumbangsih anak muda. Mereka bergotong royong sampai merelakan darah mereka dari tatar daerah hingga tingkat nasional demi persatuan dan kesatuan Republik Indonesia. Memang, bentuk perjuangan anak muda masa kini tidak bisa diidentikkan dengan bambu runcing dan pertumpahan darah ala pahlawan bangsa terdahulu.

Dengan kemudahan akses pendidikan dan kecanggihan teknologi, anak muda masa kini memiliki jalan perjuangannya sendiri yang menggunakan kemantapan intelegensi untuk kemajuan bangsa Indonesia. Perjuangannya pun tidak melulu harus langsung mencakup tingkat nasional, melainkan dimulai dari daerah masing-masing. Seperti yang dilakukan Roro Ajeng. Perempuan asal Bondowoso tersebut konsisten terhadap daerah asalnya.

Ajeng, sapaan karibnya, merupakan pendiri KURMAFoundation, sebuah komunitas sosial yang konsen dengan kebutuhan pendidikan masyarakat desa yang tertinggal. Menurutnya, KURMA awalnya adalah pengejawantahan atas balas budi pemuda dan pemudi daerah terhadap Bondowoso. Namun seiring berjalannya waktu, KURMA mengepakan sayapnya untuk membantu masyarakat Probolinggo dan Situbondo juga.

“Tahun 2010, waktu Ramadan datang, saya biasanya pulang ke Bondowoso. Kumpul sama teman (yang notabene banyak kuliah di luar Bondowoso); ada bukber, ada juga reuni. Tapi setelah dipikir-pikir, kok cuma gini-gini aja ya. Kita kumpul nggak jelas cuma ngopi dan makan. Kenapa nggak bikin kegiatan yang lebih bermanfaat. Biar tiap Ramadan nggak sia-sia waktunya,” kata Ajeng menceritakan cikal bakal KURMA Foundation.

“Dari sana, saya dan teman-teman lainnya, akhirnya kita bikin KURMA. Alhamdulillah konsisten sampai sekarang dan sudah masuk tahun ke-7,” tambahnya.

Kegiatan yang dihelat KURMA kebanyakan terjadi pada bulan Ramadan. Ajeng berkata, “KURMA adalah akronim dari Syukur Ramadan untuk Sesama. Awalnya kegiatan digelar tiap Ramadan, tapi 3 tahun belakangan ini, tiap beberapa bulan sekali kita ada kegiatan sosial. Nggak cuma di bulan Ramadan.”  

Tahun-tahun awal berdiri, KURMA menggelar bakti sosial ke panti asuhan. Menurut Ajeng, pada masa tersebut KURMA sedang meraba-raba bidang apa yang akan jadi konsen komunitasnya. “Ketika menginjak tahun ke-3, KURMA mulai jelas fokusnya, yaitu kebutuhan pendidikan, social empowerment, charity dan kebutuhan kesehatan,” tutur Ajeng.

Pergerakan KURMA tidak sembarangan. Mereka tidak tang ting tung dalam memilih lokasi kegiatan. KURMA memiliki tim survei tersendiri yang memutuskan suatu desa pantas atau tidak untuk mereka sambangi. “Tiap KURMA bergerak, kami fokus ke satu desa tapi semua bidang seperti pendidikan, pemberdayaan masyarakat sampai kesehatan, kami garap,” lanjut Ajeng.

Dari banyak target, fenomena anak putus sekolah biasanya lebih didahulukan oleh KURMA. Komunitas yang berbasis di Bondowoso tersebut tidak hanya sekadar memberikan bantuan materi, tapi melakukan aksi. “Kita nggak cuma datang kasih bantuan seragam, buku, dan lain-lain. Tapi kita ingin memberikan sesuatu yang terngiang di benak mereka sampai nanti lulus sekolah, sampai punya keinginan sekolah ke tingkat yang lebih tinggi.”

Jangan “Lupa Kulit”

Generasi millennials dikenal sebagai generasi yang ambisius. Kebanyakan dari mereka sibuk dengan dirinya sendiri dan pemenuhan kebutuhan pribadinya di tanah perantauan. Namun cerita yang dibagi Ajeng bisa mengingatkan kita agar tidak lupa dengan daerah asal. Terbukti, di tengah kesibukannya sebagai social media analyst dan content writer di salah satu perusahaan besar Indonesia, Ajeng tetap bisa berkontribusi pada tanah lahirnya.

“Waktu kuliah saya join beberapa komunitas. Mungkin ya suka ikut side activity. Mulai dari ikut yang summer camp, Forum Indonesia Muda, komunitas lokal di Malang. Saya ikut komunitas atau organisasi entah yang ada di kampus maupun yang di luar kampus. Itu akhirnya mengubah cara berpikir kita. Saya ikut beragam kegiatan yang bisa meng-empower diri saya dulu,”

Saat ditanya hal apa yang menginisiasinya mendirikan KURMA, Ajeng berkata, “Saya punya kecemasan dalam diri. Saya bisa berkembang di tempat lain, tapi nggak berkontribusi buat daerah asal. Rasanya banyak juga dialami teman-teman lain, masih berat berkontribusi buat hometown-nya.”

Menurut Ajeng, saat itu dia melihat tidak ada wadah untuk pemuda-pemudi daerah yang kuliah atau kerja di kota-kota besar ketika pulang ke daerah asalnya. “Meskipun kecil, sumbangsih pemuda tersebut pasti berarti. Apalagi di kota kecil yang belum banyak pemudanya yang bergerak,” kata Ajeng.

Dengan munculnya KURMA Foundation, menurut Ajeng, akhirnya mendorong anak-anak muda lain di Bondowoso dan sekitarnya untuk saling membantu antar komunitas, entah itu share informasi dan ilmu, bahkan sampai ada anak muda yang bikin komunitas sosial juga.

Bagaimana, Kurmate? Nah kamu juga bisa memberi sumbangsih terhadap daerah asal, Kurmate. Bentuknya bisa lewat beragam hal kok. Semoga kisah cerita Ajeng bersama KURMA Foundation dapat menginspirasi kamu ya, Kurmate. Selamat mengabdi pada tanah lahirnya masing-masing, mari menyalakan lilin-lilin kecil di daerah kita masing-masing agar Indonesia lebih terang benderang. ?

 



back