ARTICLES

POSTING DATE    TO 

CATEGORY 1

Kisah Inspiratif Khairani Windya, Cewek yang Sukses Membabat 51 Kg Lemak di Tubuhnya

27 Mar 2017

Bagi sebagian orang, terutama para cewek, menurunkan berat badan bisa jadi hal yang dianggap paling sulit di dunia. Berbagai macam program diet sudah dijajal, tapi ujung-ujungnya sama saja. Akhirnya yang ada malah putus asa dan menjalani pola hidup seenaknya sendiri.

Kali ini kami bakal berbagi kisah inspiratif Khairani Windya, seorang cewek berusia 24 tahun asal Bekasi, yang berhasil membakar lemaknya 51 kg dalam setahun. Kita mungkin akan bertanya-tanya tentang program diet apa yang diikutinya, tapi jawaban yang diberikan: tidak ada program tenar mana pun yang diikutinya. Pasti penasaran, ‘kan? Yuk simak ceritanya!

Berat Rani semula adalah 128 kg. Mau tahu sebabnya? Ini dia…

Kurmate, coba tebak berapa berat Rani, sapaan akrab Khairani, sebelum memutuskan mempunya pola hidup lebih sehat? Kamu bisa mengira-ngira jumlah berat badannya dari foto di atas.

Daripada penasaran dengan angka yang pasti, dari informasi yang kami dapatkan, berat badan Rani sempat berada di titik 128 kg. Jumlah yang sangat besar untuk ukuran cewek bertinggi 163 cm tersebut. Menurut pengakuan Rani, dirinya adalah tipe orang yang anti dengan olahraga. Ia bahkan nggak ragu buat berkata, “Benci banget.”

Saking malasnya, kata Rani, setiap mau dites olahraga, aku suka cari alasan dan guru olahragaku pun langsung paham sama keinginanku. “Waktu zaman sekolah, saat yang lain pada seneng pas mata pelajaran olahraga, aku malah benci. Soal nilai, aku biasanya nyogok ke gurunya. Hehehe,” tutur Rani sambil tertawa.

Selain malas olahraga, Rani juga punya kebiasan mengemil dan makan junk food.

Ada salah satu makanan favorit Rani yang harus dimakannya setiap sepekan sekali. Ia adalah junk food. Menurutnya, makanan tersebut bisa jadi obat peningkat mood atau gairahnya.

“Waktu kuliah di Jatinangor, wajib banget main ke kota buat makan McD. Dulu nggak ada McD di Jatinangor. Pokoknya setiap seminggu sekali aku harus ke sana,” tambahnya.

Kebiasaan ini pun diketahui teman-teman Rani. Celakanya, mereka mengerti bahwa ketika Rani sedang berada dalam bete atau marah, maka obatnya adalah diajak ke McD dan makan di sana. “Sekali pergi ke McDonalds, aku bisa habis dua ayam, satu nasi, satu kentang, satu es krim McFlurry dan minuman bersoda,” kata cewek lulusan Universitas Padjadjaran tersebut.

Selain junk food, Rani juga ternyata punya kebiasaan mengemil. Zaman skripsi, kata Rani, jadi puncaknya kebiasaannya tersebut. “Makin gendut. Sekalinya ke minimarket, aku bisa habis puluhan ribu buat cemilan doang. Bahkan sampe nyetok banyak cemilan di kamar,” ujar cewek kelahiran 1 Maret 1993 itu.

Rani lebih mudah sakit hati pada orang yang menyuruhnya diet, ketimbang dicela dengan berbagai macam sebutan negatif.

Jika tak ada kemauan tapi tak dibarengi dengan tindakan, maka Rani dengan lantang menjawabnya dengan kata: percuma. Lahirnya kemauan untuk menurunkan badan itu harusnya datang dari diri sendiri, bukan orang lain. Harus lubuk hati yang paling dalam.

Rani adalah tipe orang yang tak suka disuruh-suruh, terutama soal diet. Dirinya bahkan bakal mudah tersinggung ketika ada orang yang menyuruh diet, ketimbang diledek dengan berbagai macam sebutan. “Diledek tronton, tribun stadion atau sebutan-sebutan lain, aku nggak tersinggung. Tapi aku bakal tersinggung kalau disuruh diet. Soalnya aku pikir, ‘Ya, nggak apa-apa sih, badan-badanku sendiri’.”

Momen yang membuat hati Rani terketuk untuk menurunkan berat badannya

Awalnya iseng-iseng. Begitulah yang diucapkan Rani mengenai motif awalnya. Namun ada momen yang berhasil mengetuk hatinya. Selepas lulus kuliah, dia tak berbeda jauh dengan fresh graduate lainnya, yaitu mencari pekerjaan. Singkat cerita, sebuah rekrutmen perusahaan yang diikutinya, Rani berhasil lulus tahap awal rekrutmen sampai menjelang tahap akhir.

Menurut Rani, saat tahap terakhir para pesaingnya tinggal tersisa sekitar 200 orang. Akan tetapi, Rani tak mampu lolos. Dia tak lolos pada tahap tes kesehatan. Pasca kejadian itulah benih-benih kesadaran untuk mengubah penampilan, khususnya berat badan, lahir dalam diri Rani.

Bak gayung bersambut, beberapa waktu kemudian, tiba-tiba ada temannya yang mengajak gabung member di sebuah tempat fitnes. “Gila lu!” kata Rani menirukan responnya ketika diajak jadi member fitnes oleh temannya.

Pada akhirnya, Rani terayu dan jadi member sebulan sebagai masa percobaan. “Mumpung murah juga. Waktu itu cuma Rp 200 ribu per bulan sepuasnya,” kata Rani.

Tatkala pertama kali ikut ke gym, Rani mengaku penuh dengan rasa pesimis. Pesimis jika dia akan menyukainya. Namun cerita berubah ketika dia menjalaninya. “Ketika pertama kali nyoba, dalam hati berkata, ‘Kok enak ya?’ Capek sih, tapi kok enak ngerasainnya,” ungkap Rani.

Pasca momen tersebut, semua jadi berubah. Dia yang tadinya benci olahraga, justru jadi orang yang getol olahraga. Dalam seminggu dia bisa turun dua kilogram. Lalu, di minggu kedua, Rani turun empat kilogram. Rani berkata, “Waktu itu, kalau dipikir-pikir, aku bisa nih turun banyak. Kalau dalam kurun waktu singkat saja bisa menurunkan berat badan, apalagi kalau tambah lebih lama.”

Menciptakanlah metode diet yang paling nyaman untuk diri sendiri. Jika nyaman, pasti takkan tersiksa menjalaninya.

Tak ada program diet apa pun yang diikuti Rani. Ia malah mengajak kita untuk menciptakan metode atau program diet versi masing-masing. “Yang penting itu ciptakanlah pola diet yang bisa membuat kita nyaman,” kata Rani.

Salah satunya tentang pola makan. Hal itu jadi fokus Rani lantaran dia berpikir polanya itulah yang membuat badannya jadi besar. Kedua, dia berpikir harus menciptakan pola hidup yang sehat. Dia harus fokus dengan kegiatannya di gym plus tujuan-tujuannya. “Pernah satu waktu, kebagi fokus karena sambil cari-cari kerja. Alhasil sebulan itu cuma turun 10 kg. Terus aku dapat wejangan dari kakakku. Kata dia, ‘Adek tuh harus fokus’,” tutur Rani.

Rani memberikan tipsnya yang ternyata sangat sederhana soal pola makan. Cukup membuat list makanan tak sehat yang kerap dimakan, lalu coret beberapa makanan tersebut.

“Olahraga itu cuma 30% doang faktornya. Sisanya pola makan kita. Aku bikin list makanan yang bisa dimakan dan nggak boleh dimakan. Aku coret nasi, junk food, mie instan, cemilan dan gorengan pinggir jalan,” tukas Rani.

Metode diet yang diciptakan Rani tersebut terbukti ampuh. Selama 8 bulan, Rani berhasil membakar lemak yang ada di dalam tubuhnya dan turun 51 kg. Rani yang tadinya 128 kg, kemudian karena ketekunannya turun jadi 77 kg. Jika dihitung, maka Rani telah mampu turun 51 kg. Angka yang sangat fantastis, ‘kan?

Kebiasaan sehari-hari Rani lainnya yang bisa membuatnya turun puluhan kilogram

Menurutnya setiap pagi, dia hanya minum susu kedelai dan pisang. Sedangkan saat masuk waktu siang, dia makan lauk dan sayur. Padahal sebelumnya Rani sama sekali anti dengan yang namanya makan sayur.

“Setiap hari aku bangun subuh. Jam 6 berangkat ke gym, dan menghabiskan waktu di sana sampai jam 11 siang. Habis itu pulang, makan makan sayur dan lauk tanpa nasi. Setelah Ashar, aku berangkat lagi ke gym. Di sana sampe maghrib. Terus pulang dan tidur deh,” papar Rani.

Sekarang Rani sedang menciptakan pola diet yang baru dengan tambahan puasa. Dia masih berambisi untuk menurunkan berat badannya lagi. “Sekarang sih lagi nyoba mix puasa Senin-Kamis. Sahurnya, aku cukup minum air putih 3,5 gelas. Terus buka puasanya makan telur rebus 4 butir tapi cuma satu yang kuning kumakan,” ujar Rani.

Testimoni Rani tentang menjadi lebih kurus dan nasihat yang bisa kita ambil tentang hidup sehat

Rani sebenarnya orang yang tak terlalu mempermasalahkan tampilan fisik. Buktinya, ketika zaman sekolah dan kuliah, dia orangnya percaya diri saja. Rani aktif sekali di organisasi-organisasi sekolah atau kampusnya.

“Aku nggak ada perasaan minder sama sekali. Aku malah tipe gendut yang disayang banyak orang. Setiap hari bisa sampai puluhan kali dipeluk, entah itu sama cewek atau cowok,” ungkap cewek yang kini bekerja di RCTI tersebut.

“Tapi, satu hal yang penting, yang aku tahu, gendut itu nggak sehat,” tegasnya.

Setelah 50 kg lebih telah dia babat, Rani mengungkapkan banyak hal di dunia ini jadi lebih terbuka. “Kesempatan kerja lebih terbuka, tubuh nggak gampang gerah, nafas nggak susah dan lebih mobile juga tentunya. Aku nggak bilang kalau gendut itu kesempatan kerja lebih kecil, tapi aku yakin kalau nggak gendut itu bisa jadi faktor yang cukup menguntungkan,” kata Rani.

Di tengah kesibukannya, kini Rani terus berjuang menjaga dan menurunkan berat badannya. Rani juga menekankan, perlunya rasa tanggungjawab terhadap diri sendiri dan apa yang kita makan. Sekalinya kita makan agak banyak, kata Rani, maka kalori yang masuk juga lebih banyak.

 



back