ARTICLES

POSTING DATE    TO 

CATEGORY 1

Nggak Gaptek Memang Penting, Tapi 5 Hal Ini Bisa Hilang Karena Sibuk Main Gadget

29 Mar 2017

Salah satu hal sulit bagi kita yang hidup di masa kini adalah untuk tidak terpengaruh dampak negative dari kemajuan teknologi. Segala aspek kehidupan manusia, terutama tentang aspek sosial, tak ada yang tak terpengaruhi. Akan tetapi, dari setiap lahirnya perubahan pasti ada sisi baik dan sisi buruknya. Sisi baiknya, kita dipermudah dalam banyak pekerjaan menggunakan gadget kita. Belum lagi jarak yang tidak pernah menjadi masalah dengan adanya teknologi.

Namun, sisi-sisi baik tersebut telah memunculkan sisi buruk lainnya. Lantaran kita terlalu mengagungkan kelebihannya, kita lupa banyak hal telah mengikis peran kita sebagai makhluk sosial. Kira-kira apa saja hal yang bisa hilang ketika kita terlalu sibuk dengan gadget kita masing-masing?

 

1. Kita kehilangan kesempatan untuk menemui dan merasakan emosi sesungguhnya

Secanggih apa pun alat teknologi komunikasi zaman sekarang, tetap saja tak ada yang bisa menggantikan kualitas komunikasi tatap muka. Dalam ilmu komunikasi, kegiatan ini disebut dengan human relations. Kualitas komunikasi secara maya tak mampu menyamai kualitas komunikasi secara langsung atau tatap muka.

John Pavlovitz, seorang spesialis media sosial, tak ragu menyebut komunikasi melalui media sosial sebagai metode terendah dalam kasta komunikasi. Kerap kita temui di sekitar kita, berinteraksi melalui media sosial mampu menciptakan perdebatan. Hal ini terjadi karena multitafsirnya dari sang penerima pesan. Beda sekali dengan tatap muka, kita akan lebih mampu menafsirkan pesan dari seseorang karena faktor intonasi penyampaian pesan, mimik wajah, hingga bahasa tubuh yang digunakan.


2. Hilangnya keintiman pertemanan yang sebenarnya di dunia nyata.

Kurmate, sekarang coba cek jumlah teman-temanmu di media sosial. Jumlahnya ratusan sampai ribuan teman, bukan? Akan tetapi yang mesti kita kritisi: seberapa sering kamu berinteraksi dengan mereka? Dan, seberapa dekat atau kenal kamu dengan teman-temanmu di media sosial tersebut? Meskipun jumlah teman-teman pada tabel friends-mu banyak, bukankah kita kerap merasa kesepian.

Sekarang, banyak di antara kita yang sering kumpul bareng sebagai tajuk tapi isinya orang yang sibuk dengan gadget masing-masing. Padahal jika kita benar-benar lepas gadget dan fokus membangun komunikasi di dalamnya, kita pasti akan merasakan kehangatan yang lebih dari sebuah hubungan pertemanan atau persahabatan. Kita bisa saling merasakan sentuhan, kontak mata, berbagi cerita canda dan tawa, bahkan hingga duka.



3. Patokan kebahagiaan di zaman sekarang adalah jumlah reaksi di dunia maya.

Perlu kita sadari, apa yang kita nikmati dalam bermedia sosial pada hari ini adalah berlomba-lomba mendapatkan like dan love untuk setiap hal yang kita unggah. Media sosial kemudian jadi bergeser fungsinya. Yang tadinya jadi tempat berkomunikasi, berpendapat, berbagi informasi atau berbagi hiburan, kini jadi media berbagi kebahagiaan yang hampir tipis dengan media alat pamer diri.

Tak sedikit orang-orang yang merasakan kebahagiaan tatkala notifikasi pada gadget-nya berbunyi dan menemui teman-temannya di media sosial menyukai apa yang diunggahnya. Banyak orang pada era digital ini yang mendefinisikan kebahagiaan hanya berdasarkan jumlah followers, like atau love di dunia maya. Standar bahagia pada era digital cukup berbeda dengan era pada saat digital belum berkembang seperti sekarang.

 

4. Hilangnya rasa empati atau kepedulian terhadap sesama.

Sebuah kampanye kemanusiaan yang diciptakan sebuah non-governmentorganization asal Singapura meggunakan slogan: Liking isn’t helping. Be a volunteer. Change a life. Mereka mengkampanyekan hal ini lantaran banyak orang di dunia maya kehilangan rasa untuk berempati.  Sikap orang-orang di dunia maya biasanya terhenti di titik “simpati”, yang tak lain dan tak bukan cukup menekan tombol love atau like pada sebuah unggahan.

Perlu kita pahami, sebuah love atau like di media sosial takkan sama sekali membantu orang yang sedang kesusahan dalam sebuah uanggahan. Tak ada penyelesaian masalah yang terjadi jika kita hanya berhenti pada titik simpati. Sebuah like pada foto orang kelaparan di pinggiran ibukota takkan mampu membuatnya kenyang. Sikap empati berupa tindakan yang nyatalah yang mampu mengatasi sebuah permasalahan yang terunggah di media sosial.

 

5. Teknologi internet menghilangkan waktu berharga bersama orang-orang tercinta.

Coba dihitung, sudah berapa kali dan berapa lama kamu mengacuhkan obrolan orang terdekatmu lantaran sibuk dengan gadget? Contohnya, ketika orangtua sedang mengajakmu berbicara tapi kamu memfokuskan diri pada gadget, maka betapa meruginya kamu kehilangan momen dengan orang tercinta. Ketimbang menikmati waktu berkualitas dengan orang yang kamu cintai, kamu memilih terlibat dalam riuh ramai orang-orang di dunia maya. Semua indera yang ada kaku dan hanya terpaku pada hal yang hanya dikendalikan oleh ujung jemari. Kecuali indera telinga, yang masih sesekali mendengar ucapan orang di sekitarmu, tapi sayangnya itu tak pernah benar-benar terhitung kualitasnya. Dan sayangnya, tindakan tersebut tak hanya sekali atau dua kali terjadi tanpa kita sadari.

Tanpa bermaksud menggurui atau menolak kemajuan zaman. Kami hanya ingin mengajak Kurmate agar dapat mengelola diri lebih baik di masa kini. Sebagai sesama Kurmate, sudah sewajarnya memang saling mengingatkan satu sama lain. Jangan sampai kita kehilangan momen berharga karena kemajuan teknologi. Kita juga sebaiknya jangan lupa bagaimana cara hidup berdampingan dengan sesama manusia lainnya.



back