ARTICLES

POSTING DATE    TO 

CATEGORY 1

#LocalHero: Robby Firliandoko, Pemuda Inspiratif yang Menginisiasi Perubahan dari Daerah Sendiri

23 Apr 2017

Sosok pemuda satu ini memang bukanlah anak-anak muda sepopuler Akil Mulki Syahrian, pegiat Komunitas Bogor Clean Action, atau pula Desi Natalia Manurung, pegiat gerakan We Love Bogor, yang menerima penghargaan Bogor Award 2017 karena kontribusinya terhadap Kota Hujan tersebut. “Sebenernya masih banyak lho, Mas, yang layak diwawancari selain gue,” imbuhnya.

Begitulah kata-kata yang terucap dari Robby Firliandoko saat Nafoura meminta izin untuk mewawancarainya, Rabu pagi (4/5/2017). Namun berkat kerendahan hatinya, Robby pun bersedia. Menurutnya, selama itu bisa bermanfaat untuk banyak orang, dia senang untuk berbagi.

Sebelum mewawancarainya secara langsung, tim Nafoura berangkat langsung dari Jakarta ke Kota Bogor. Perjalanan tim kala itu diiringi hujan yang cukup deras, plus kilauan petir yang menyambar langit gelap itu, mewarnai perjalan kami ke Bogor.

Selama berada dalam perjalanan, tim Nafoura sebelumnya sudah ditawari oleh Kang Robby, sapaan akrabnya, untuk dijemput setibanya di Bogor. Pribadinya yang rendah hati, makin menambah decak kagum saja ya, Kurmate…

Lalu kami diajak berteduh di sebuah kafe yang apik.Kafe ini memiliki balkon yang memiliki pemandangan kota Bogor sejauh mata memandang. Hal itu jelas menarik perhatian penulis. “Gimana Mas? Bogor keren ‘kan? Hahaha” Tandasnya diselingi candaan ringan sore itu.

Inisiator Bogor Ngariung

1438032820005.jpg

Robby merupakan inisiator dari Bogor Ngariung, sebuah gerakan yang mewadahi sekitar 90 komunitas di Bogor. Saat orang-orang seusianya berambisi untuk ke ibukota dan mengadu nasib di sana, Robby memilih jalan untuk mengabdi pada kota lahirnya sendiri lewat jalan komunitas dan kepemudaan. Padahal menurut teman-temannya, mantan peraih Mahasiswa Berprestasi Universitas Diponegoro tersebut sudah banyak ditawari beberapa perusahaan untuk bergabung.

“Saya merasa punya utang sama Bogor. Makanya saya dan kawan-kawan lain mengajak para pemuda melakukan perubahan bersama-sama,” tambahnya.

Menurutnya, banyak cara untuk melakukan perubahan, salah satunya dengan berkomunitas. “Kitalah pemuda-pemudi yang bisa melakukan perubahan. Dan perubahan itu sebaiknya kita lakukan dari hal-hal kecil. Nggak sedikit yang bilang perubahan itu harusnya dilakukan secara nasional, dimulai Jakarta. Tapi nggak selalu Jakarta kok, paling nggak dari kota asal sendiri dulu.

Bersama temannya yang lain seperti Nur Huda Anwar, Syaeful Bahri, Arista Ramadani, mimpi Robby mempersatukan komunitas-komunitas di Bogor pun terwujud. Tiga tahun sudah lamanya Bogor Ngariung eksis di tatar yang dulunya pusat Kerajaan Pajajaran.

Awalnya, kata Robby, komunitas nggak saling kenal dengan komunitas lain. Itulah alasan lain mengapa Robby berinisiatif mendirikan Bogor Ngariung. “Mereka tadinya jalan sendiri-sendiri. Gue sendiri pernah belajar di Semarang, dan punya pengalaman berkomunitas di sana. Kalau ada yang garap aksi, komunitas tersebut bisa dibantu minimal 4 komunitas lainnya. Nah, gue coba terapkan di Bogor,” paparnya.

Dana kecil, impak besar

IMG-20150726-WA0019.jpg

Menurut Robby, jika bicara soal dana, komunitas memang sulit. Patungan bukanlah hal yang aneh. “Energinya juga kadang seadanya, tapi sebenarnya impact-nya besar. Gue mikir, ‘Kenapa nggak kolaborasi aja? Energinya bisa lebih besar, orangnya juga lebih banyak’,” kata Robby.

Sejauh ini, Bogor Ngariung memiliki agenda rutin setiap dua bulan sekali. Kegiatanya adalah Ngariung Komunitas dan Aksi Bersama. Robby berkata, “Di acara ngariung (artinya: berkumpul), kami biasanya mendiskusikan dan merancang sebuah aksi matang-matang, lalu dua bulan berikutnya kami bertemu untuk melakukan aksi.”

Bogor Ngariung pun pernah melakukan aksi di salah satu taman. Seperti diketahui banyak orang, semenjak Bima Arya naik jadi walikota, banyak taman dibangun di Bogor. Sayangnya, tidak sedikit yang menjadikan taman-taman tersebut sebagai tempat pacaran atau mojok.”Akhirnya kita bikin aksi, berkumpul di salah satu taman. Ada sekitar 20 komunitas yang terlibat. Ada yang mendongeng, ada yang permainan tradisional, kampanye lingkungan, nge-batik, bahkan membuka kelas kerajinan tangan pun ada,” kata Robby.

Acara dan buku ‘Bogor Hujan Komunitas’

Agenda besar yang sedang Robby dan teman-teman garap tahun ini adalah pameran komunitas. Menurutnya, acara yang bertajuk Bogor Hujan Komunitas tersebut merupakan mimpi Bogor Ngariung dari awal setelah tiga tahun berjalan.

Selain itu, Bogor juga memiliki buku dengan judul yang sama; Bogor Hujan Komunitas. Isinya adalah cerita masing-masing komunitas, yang mana terdapat 31 komunitas di sana. “Website sebenarnya ada, media sosial juga ada. Tapi lewat buku, kami pikir ada sesuatu yang bisa abadi, dikenang dan dikenal banyak orang. Mengutip kata-kata Pram, sepintar dan sehebat apa pun kamu, selama nggak nulis, itu akan hilang. Begitu, ‘kan?” kata Robby.

Robby meyakini, semua pemuda mengharapkan perubahan positif untuk Indonesia. Tapi selama itu nggak diawali dari diri sendiri atau lingkungan terdekat, perubahan akan susah terjadi. “Bayangkan kalau kita nggak Jakartasentris atau perubahan dimulai dari Jakarta yang mengatasnamakan nasional, tanpa dibarengi kota-kota kecil lain,” kata Robby.

Menurutnya, kota-kota kecil itu layaknya lilin-lilin kecil. “Dibanding memilih menyalakan lilin besar dari Jakarta, kenapa kita nggak bikin lilin-lilin kecil yang hidup di setiap kota. Jadi ‘kan nyala semua se-Indonesia? Itulah kenapa setiap kota atau daerah lain pemudanya harus guyub, saling bantu. Siapa pun pemimpinnya daerahnya, anak muda harus terus bergerak untuk perubahan ke arah positif," seru Robby.



back