ARTICLES

POSTING DATE    TO 

CATEGORY 1

#LocalHero: Lewat Cara Kreatif, Sukapura Project Kenalkan Adiwarna Tasikmalaya

24 Apr 2017

Sebuah kalimat bijaksana Pandji Pragiwaksono tentang anak muda mungkin sangat relevan dengan keadaan sampai kapan pun. Ia pernah berkata, “Hanya ada 2 jenis anak muda. Mereka yang menuntut perubahan dan mereka yang berusaha menciptakan perubahan.” Keadaannya memang seperti itu, tapi bagi Sukapura Project, mereka sepakat untuk menjadi anak muda yang berusaha menciptakan perubahan.

Jika Kurmate mengunjungi media sosial Instagram dan Youtube mereka, kamu pasti akan dibuat terkesima lewat karya-karyanya. Sukapura Project merupakan sebuah kelompok anak muda asal Tasikmalaya yang memiliki hobi dan bekerja di bidang fotografi dan videografi. Namun bukan hobi berfotografi dan videografi yang biasa. Mereka memiliki tujuan mengembangkan potensi pariwisata yang dimiliki Tasikmalaya.

“Sukapura Project diciptakan karena rasa prihatin dan kecemasan kami terhadap pengemasan semua tentang Tasikmalaya di banyak media sosial. Padahal Tasikmalaya itu punya potensi dan hal yang bisa ditunjukan ke luar. Kami pernah melihat video profil Tasikmalaya di Youtube, tapi kami sepakat bahwa hasilnya jauh dari kata memuaskan. Bisa dibilang menyedihkan,” kata Firman Maulana, founder Sukapura Project.

Menyadari hal tersebut, Firman dan beberapa teman lainnya kemudian memutuskan untuk menciptakan sendiri konten-konten visual dan audiovisual versi mereka. “Waktu itu belum ada nama Sukapura Project. Masih tahap ngumpulin temen-temen yang punya pemikiran dan cita-cita yang sama. Ada sekitar 12 orang. Isinya ngobrol dan nyamain ide, kemudian mulailah membuat konsepnya,” lanjutnya.

Saat pertama kali mengeluarkan teaser film dokumenternya, Sukapura Project langsung menarik perhatian banyak khalayak. “Setelah teaser film Sukapura tentang Tasikmalaya kami unggah ke beragam media sosial, kata Firman, respon masyarakat sangat baik. Tidak sedikit dukungan yang datang lewat DM (direct message) di Instagram,” kata Firman.

Saat ini, film Sukapura sendiri sedang dalam masa penggodokan. Sukapura Project bahkan mengajak kerja sama penulis-penulis yang ada di Tasikmalaya untuk membantu memberikan insight dan penggarapan naskah. “Referensi penggarapan film Sukapura adalah Samsara, Epic Java, Baraka, dan sejenisnya. Jadi konsepnya film dokumenter non-narasi,” tutur Firman.

“Nantinya akan ada banyak hal yang ingin kami angkat. Bukan hanya destinasi wisata saja, tapi kebudayaannya, masyarakatnya, kulinernya dan hal-hal lain yang jadi potensi Tasikmalaya Raya,” tambahnya.

Sambil menggarap proyek film dokumenter tersebut. Sukapura Project juga rutin menggarap video berdurasi satu menit yang berisi beragam footage dan diunggah di Instagram dan Youtube. Sejauh pengamatan Nafoura, Sukapura Project juga terlibat aktif dalam pendokumentasian event kebudayaan di Tasikmalaya. Firman berkata, “Sambil menunggu film besar, kami terus bergerak tapi di area yang sama, seperti rutin menggarap video berisi footage berdurasi satu menitan buat di Instagram.”

Gadget dan internet kini telah menjadi hal yang tak bisa dilepaskan dari kehidupan manusia. Tak heran jika banyak orang pada masa kini menyandarkan diri pada internet. Bahkan sampai mencari referensi destinasi wisata pun, mereka lakukan via internet. Sukapura Project sadar akan hal itu, dan sejauh ini, sudah ada 20 destinasi yang mereka eksplor. Padahal, kata Firman, masih banyak yang belum tereksplor. “Soal perkembangan pariwisata, dampak yang kami berikan memang belum terlalu besar. Tapi setidaknya Sukapura sudah bisa mewarnai wajah Tasikmalaya di mata banyak orang, terutama yang mengakses melalui internet,” tutur Firman.

Inspirasi bagi pemuda-pemudi banyak kota

Ada cerita unik juga di balik perjalanan Sukapura Project berkarya. Pasca mengunggah video dan direspon positif oleh banyak netizen Tasikmalaya, sepak terjang Sukapura Project ternyata sampai juga ke netizen yang berasal dari luar kota.

“Banyak orang dari kota lain tanya-tanya. Mereka bilang terinspirasi dan ingin melakukan hal yang sama untuk daerah asalnya. Rata-rata bilang gini, ‘Saya anak daerah juga ingin melakukan hal yang sama, tapi nggak punya temen’. Akhirnya kami kasih masukan. Belum lama ini, Kota Ciamis punya movement yang sama juga. Namanya Galuh Vision. Kami senang banget, berhasil menyebarkan virus positif pada anak-anak muda di kota lain,” papar Firman.

“Sebagai pemuda daerah, masa sih nggak peduli sama daerahnya sendiri? Apalagi kita masing-masing punya potensi buat berkarya untuk daerah sendiri. Berkaryalah lewat cara masing-masing. Namun yang pasti sih kita harus memulainya, karena hal yang paling susah, ya hanya memulainya” kata Firman.

Sebagai pemuda, kita memiliki kewajiban untuk memajukan daerah sendiri. Pemuda adalah salah satu faktor keberhasilan suatu daerah. Jadi kalau pemudanya males-malesan, jangan harap daerah tersebut maju.



back